-

April 24, 2009

Mengenal Tuah Pantun Melayu

pantun melayuPantun merupakan bentuk sastra lisan Melayu yang masih hidup ditengah masyarakatnya. Disamping sebagai bahasa hiburan, kelakar, sindiran, pelampiasan rasa “rindu dendam” antara bujang dan dara. Pantun juga dijadikan media dakwah dan tunjuk ajar. Penyampaian aqidah islam, nilai luhur budaya dan norma-norma social adalah salah satu bentuknya.

Melalui kegemaran berpantun ini, para ulama, pemuka adat dan cerdik pandai tanah Melayu menanamkan serta meyebarluaskan ajaran islam, termasuk nilai-nilai luhur budaya kepada masyarakatnya. Mereka menjelaskan bahwa nilai luhur budaya melayu tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama islam, sebab sumber dan punca dari keseluruhan nilai-nilai luhur dimaksud adalah islam. Sesuai dengan ungkapan “Elok Budaya Karena Agama, Elok Adat Karena Kiblat.”

Pantun yang berisikan dakwah dan tunjuk ajar ini disebut pantun berisi atau pantun tunjuk ajar atau pantun nasehat. Penyampaiannya dilakukan secara bervariasi, seperti pantun nyanyian, pantun adat, pantun kelakar, pantun nasehat dan pantun berkasih-sayang, termasuk pantun mantra (monto).

Penggunaan kata dalam setiap bait pantun cukup terbatas, namun mereka (orang tua-tua melayu) mampu mengentalkan isinya sehingga mudah dipahami. Hal ini tidak lepas dari keterlibatan mereka sejak kecil dalam ikhwal pantun memantun. Sehingga memberi peluang untuk meningkatkan kemampuan dalam hal menjalin berbagai isi pantun. Menjalin unsure-unsur dakwah dan tunjuk ajar kedalam sebuah pantun menjadi kelebihan tersendiri bagi masyarakat melayu, dan bukan suatu keheranan bila kebanyakan orang tua melayu mampu berpantun secara spontan.

Sesekali sarat hiburan, pantun pun dijadikan sebagai media pembelajaran dan pelatihan kecakapan diri. Dalam berbalas pantun, sering terjadi semacam ujian terhadap kemampuan seseorang menjawab pantun yang “dijual” lawannya itu. Dengan demikian ia dilatih untuk berfikir secara cepat supaya dapat membalas dan menjual pantunnya. Hal ini lambat laun menyebapkan ia memiliki kemampuan untuk berpantun secara otomatis. Ia terbiasa berfikir cepat , menyusun pantun dalam waktu singkat kemudian memantunkannya secara spontan.

Pantun memantun lambat laun menjadi kebiasaan dalam pembicaraan sehari-hari komunitas melayu. Mereka dalam melakukan percakapan diselingi dengan pantun memantun sesuai dengan isi pembicaraannya. Kebiasaaan ini berlanjut dan semakin mengokohkan peranan pantun dalam kehidupan mereka. Bahkan, sebagian orang tua-tua itu mengatakan, bila percakapan tidak diselingi pantun memantun, maka pembicaraan itu terasa hambar. Karenanya dalam berbual mereka meyelipkan pantun, yang mereka sebut sebagai “pemanis cakap” yang hakekatnya menyampaikan isi tertentu pula.

Dimasukkannya pantun dalam percakapan semakin membuka peluang penyampaian dakwah dan tunjuk ajar melalui pantun. Sebutan “pemanis cakap,” “pelemak kata,” “penyedap bual,” dan “bunga cakap,” tidak lah bermakna mengecilkan arti pantun, tetapi sebaliknya semakin mengokohkan peranan pantun itu sendiri. Apalagi pantun-pantun yang disampaikan didalam perbualan itu adalah pantun pilihan yang isinya sarat dengan berbagai pesan, petunjuk, petuah, amanah, yang hakekatnya mengandung unsur dakwah pula.

Hal ini menunjukkan, bahwa pemakaian pantun amatlah luas. Sehingga pemanfaatannya sebagai media dakwah dan tunjuk ajar amatlah tepat, karena mampu menembus semua lapisan masyarakat. Penegasan pemanfaatan dan pemakaian pantun sebagai media dakwah dan tunjuk ajar itu, tercermin dalam ungkapan :

“apa guna pantun dibuat, pantun dibuat mengajari umat:
mengajari ilmu dunia akhirat
mengajari syarak beserta adat
mengajari orang mengenal kiblat
mengajari amal serta ibadat
supaya hidup tidak tersesat
bila mati beroleh rahmat”

“apa guna pantun dipakai, menunjuk mengajar orang ramai:
supaya beragama tiada merampai
supaya beramal tiada lalai
supaya budi elok perangai
supaya memakai pada yang sesuai
supaya hidup rukun dan damai"

penegasan orang tua-tua melalui ungkapan diatas semakin mengokohkan peranan pantun sebagai media dakwah dan tunjuk ajarnya. Hal ini mendorong pakar-pakar pantun memasukkan unsur dakwah dan tunjuk ajar kedalam setiap pantunnya. Semakin sarat pantun itu dengan nilai-nilai luhur, semakin banyaklah orang menyukainya. “pantun berisi” ini kemudian disebarluaskan ketengah-tengah masyarakat, didendangkan melalui nyayian, diselipkan dalam perbualan, dibahas dalam musyawarah adat, diuraikan dalam pengajian dan sebagainya. Pantun-pantun ini diwariskan turun temurun, dibukukan oleh masyarakatnya.

Kekalnya pantun melayu, tak lain karena kandungan isinya yang berpunca dari ajaran agama islam dan adat istiadatnya, yang “tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas.”

Penjelasan ini memberi petunjuk, bahwa hakekatnya, pantun yang berkekalan adalah pantun yang kandungan isinya adalah nilai-nilai luhur yang abadi, sedangkan yang lainnya, tidaklah dapat bertahan lama. Setidak-tidaknya akan berubah menurut perubahan zaman dan masyarakatnya. Hal ini mendapat penegasan dalam ungkapan “kalau pantun bermain-main, ia berubah menurut anginnya,” atau dikatakan “kalau sekedar pantun kelakar, setiap musim ia bertukar.” (dari berbagai sumber)

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan


Baca Juga Artikel Pekanbaru Riau Dibawah ini:

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari www.sungaikuantan.com di inbox anda:

Comments :

48 komentar to “Mengenal Tuah Pantun Melayu”

Pantun, kebudayaan Indonesia yang perlu kita lestarikan. Saya senag mendengarkan pantun, apalagi pantun jenaka

Link sudah saya pasang ya

erik24498 said...
on 

kalo istilah pantun di daerah saya nama lawas.

keboaja said...
on 

petromaxx bukan?

kayaknya sekarang emang sudah kurang ya yang bisa pantun, soale butuh imajinasi tinggi soale...

zujoe said...
on 

Tp ternyata bikin pantun gak semudah yg saya pikir. Haduh haduh.

rampadan said...
on 

setau saya denger pantun pas ada orang merit doang..hehe

duCkY... said...
on 

hadoooohhh..

panas yang menyengat
di hari selasa.. :P
salam hangat
tuk anda semua . .

=))

met siang ajjah bro . .

kre_thek said...
on 

pantun salah satu budaya indonesia yang mesti dilestarikan, ntar malah diklaim malaysia lagi,ngaku2nya milik malaysia, sepeti wayang, batik dan reog yg diklaim malaysia sebagai milik malaysia,

eri-communicator said...
on 

mari kita berpantun... :D

manusiahero said...
on 

ternyata pantun bisa dikunakan buat media dakwah juda ya bang. seperti wayang di jawa :). emang para ulama pada pinter menyibarkan agama :)

saya rindu buat pantun hehehe, dulu sering waktu sekolah, tapi sekarang dah lupa lagi caranya :D

J O N K said...
on 

kelapa tua dibuat santan
kelapa muda diminum airnya
nak belajar pantun di sungaikuantan
lestarikan budaya beserta marwahnya

hidup pantun
hidup attayaya (*pletaaakkk wadowww)
woiii...

attayaya said...
on 

oooo

pantun atuh...

negeri hijau said...
on 

bunga raya telah kembali menoreh jejak di sore ini,sungai kuantan menari nari mengajak bunga berkomentar disini

Bunga said...
on 

kalau ada sumur diladang
bolehlah menumpang mandi
kalau bisa abang..
ajari kami2 ini..

gimana pantuku barusan..
bagos-bagos..
he..

Sopandi said...
on 

apresiasi pantun di indonesia saat ini sangat rendah, beda dgn beberapa tahun lalu. bahkan dulu prnah ada acara 'berbalas pantun' di tvri. ayo giatkan brpantun mulai skrg :D

sekilas info bro: blogku akan sgera pindah ke domain: asal-usul.com. launchingnya tgl 27 april bsk. nanti aq kbri lagi ya... :)

Blog Sejarah said...
on 

wew.. iya tuh orang melayu biasanya pada jago bikin pantun he..he..

hryh77 said...
on 

pantun merupakan sarana mengungkapkan isi hati dengan kata-kata indah.. sehingga terkesan di hati orang mendengarnya.

nb. bila anda memang membutuhkan template tersebut, mohon agar menyediakan email anda. Insyallah akan saya kirim

bcom said...
on 

wah bisa nyaingi pak tenas neh bro

attayaya said...
on 

Waduh..ternyata seperti itu yach? *manggut-manggut* Baru tau loh saya..Makasih ilmunya

ajeng said...
on 

Ngiri ama templatenya,he..

pelajaran-blog.blogspot.com said...
on 

naik kebo ke pondok gede
aduh bo...cape deh...!

itu pantun bukan ya?

Sang Cerpenis bercerita said...
on 

Buku yang sangat bermanfaat bagi saya. Dimana saya bisa mendapatkannya atau membelinya?

Ronaldo Rozalino said...
on 

buah duku tentu lebih enak dari buah mengkudu
jika ada waktu, kunjungilah blogku.

*coba berpantun*

Dana Telco said...
on 

bagi2 link in utk sobat....

waduh sob...bahasa melayu...nyambung2 dikit sih...

tapi keren sob............

semangat terus.....

HAPIA Mesir said...
on 

thanks bgt.....
ya ntar web qm tak pasang, liat ya.....

Youngky said...
on 

kalau lomba blog itu cuman bs diikuti pelajar sekota q ro... daftar nya ke kantor telkom kota q

Youngky said...
on 

wah..saya pingin bisa berpantun nih..;))

dj techniques said...
on 

bangun tidur makan ketan,
terlalu banyak bisa pusing...
jalan jalan ke sungai kwantan,
tidak lupa tukar link..he..he..

Herba said...
on 

benar sobat komenter itu penting..so..jangan lupa titip komentar juga di blogku yah

tiar said...
on 

Terima kasih sahabat, semakin suka saya dengan sastra melayu

semar said...
on 

Walaikum salam... Kunjungan balik sob... Thanx dah mampir.

Arief Online said...
on 

Yoi pake flash!!! Mau off nih, ngantuk bro... Met weekend!!!

Arief Online said...
on 

habis malam minggu jalan-jalan ke blog teman :thumbsup:

eri-communicator said...
on 

kalo sempet baca buku2nya andrea hirata, disitu kita bisa melihat adat melayu yang kental, pantun juga banyak terdapat disitu.
maju trus kebudayaan indonesia

babegue said...
on 

yang punya blog pinter mantun gak nih,hehehehe

JengSri said...
on 

almarhum bapak saya paling jago ma pantun.. apalagi pas pesta pernikahan wah selalu diundang untuk jadi tuan rumah mempelai wanita atau laki2nya.. pokonya laris manis deh..

arsip ttg pernikahan2 san buku pantun masih terpajang rapi dirumah, sayangnya ga da yang ngikutin jejak bokap...

i miss him....

kak_ega_punya cerita said...
on 

Luna Maya dendangkan Samba
Masak ikan berkuah santan
Dunia maya tempat kita bersua
Jangan lupa blog Sungaikuantan

nanoq da kansas said...
on 

salam...


thx for visitting...we visit u back...keep smiling :)

Pahlawan Bertopeng 212 said...
on 

Happy Sunday...

Try W. Sarwono said...
on 

thank's for visit my bLog...:D

KeLvIN said...
on 

nice posting frenz.. siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikannya...
TFS :)

kakara said...
on 

perbanyak posting yang kayak gini boss,, secara gak langsung kita melestarikan budaya,..,

cowok lugu said...
on 

wah, ga bisa pantun..apalagi pantun spt yang di postingan ini..

budiawanhutasoit said...
on 

Aku suka pantun, cuma terkadang ada saja pihak yg salah menggunakan kaedah dari pantun itu sendiri..

Maryo said...
on 

Buat kontes pantun...

BUAT HIDUPIN NI BUDAYA

Chuanx said...
on 

Pak, boleh minta file pantun buat pernikahan ga???

tolong di kirim ke mailto:wenda.ny@gmail.com ya Pak..... lagi butuh ne Pak :)

makasih sebelum nya

WeNda said...
on 

Saye sebagai anak Melayu Nusantara, sangatlah suke berbalas pantun same siape aje. jadi sebagai anak bangsa kita wajib melestarikan budaya bangsa salah satunya pantun, supaya tidak hilang dengan berkembangnya jaman.

santi said...
on 

terdapat suatu tempat di malaysia bernama kuantan ,yang mana turut mempunyai sungai,sungai kuantan.

syazwan said...
on 

mudik ke hulu mencari gaharu
sampan empunya sang ratu
bukan mencuri atau meniru
asal punca rumpun nan satu

buang yang keruh ambil yang jerneh
iman dan takwa sumber cahaya
usah bertelingkah perkara remeh
teguhkan bangsa suburkan budaya

<>

syazwan said...
on 

Bagaimana Pendapat Anda?

KOMENTAR Sobat Adalah Nyawa Blog All About Pekanbaru Riau ini, Tentunya Blog Sobat Juga, Jadi Kita Sesama Blogger Mari Saling Menghidupi... Hehehe....

Bagi yang BELUM PUNYA BLOG bisa pakai 'Comment As: name/URL. masukkan nama dan FS, FaceBook, Multiplay atau lainnya (contoh: http://facebook.com/nanlimo)

 

SungaiKuantan.Com Site Info


TopOfBlogs