-

February 11, 2010

Sejarah Masjid Raya, Cultural Heritage

Landmark wisata religi Pekanbaru Riau yaitu Masjid Raya, kini tinggal kenangan yang tertinggal hanya berupa warisan budaya yang hancur rata dengan tanah. Tiada lagi Masjid Raya Pekanbaru sebagai daya tarik wisata sejarah dan religi di Riau, tak kan dijumpai lagi bentuk aslinya. Hanya foto-foto Arsitektur kenangan Masjid Raya Pekanbaru tersisa. Untuk mengenang dan mengingat kembali Mari kita lihat lebih dekat Masjid Raya Pekanbaru, bangunan bersejarah bermur lebih dari sabad atau 100 tahun itu.


Sejarah Masjid Raya Pekanbaru
Masjid Raya Senapelan atau sekarang Masjid Raya Pekanbaru pertama kali dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah (1766-1780 M), dikenal sebagai Marhum Bukit, Raja ke-4 Kerajaan Siak Indrapura, sekitar tahun 1762 M. Kemudian pembangunannya diteruskan oleh Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Raja ke-5.


Sekitar tahun 1775 Marhum Bukit memindahkan ibukota kerajaan dari Mempura Siak ke Sanapelan. Beliau wafat tahun 1780. Senapelan adalah lokasi Masjid Raya. Hal ini-merupakan cikal bakal pertama berdirinya kota Pekanbaru sejak berdirinya Masjid Raya.


Masjid Raya Cagar Budaya, Warisan Budaya Melayu Islam
Buktinya berupa secarik kertas bertuliskan: Sesuai keputusan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomor. KM.13/13.007/MKP/2004, tentang penetapan Istana Siak dan.. (sejumlah situs lainnya) termasuk Masjid Raya Pekanbaru, yang berlokasi di-Pekanbaru merupakan benda cagar budaya, situs, atau kawasan yang dilindungi UU RI No.5/2004.


Revitalisasi / Perombakan Total Masjid Raya Pekanbaru
Perombakan Masjid cagar budaya Riau sudah-tidak bisa dijegah. Jangan terheran-heran jika Anda pernah datang sebelumnya karena mesjid raya asli tidak-akan ditemukan lagi. Kini mesjid dibangun sekitar 100 tahun lalu itu sudah-berubah bentuk menjadi mesjid modern.


Masjid Raya Pekanbaru sudah-dibangun dua lantai, bahkan sumur tua di-samping mesjid sudah-tidak ada lagi. Padahal sumur tua-itu sangat dikenal sampai ke Malaysia-Singapura karena dipercaya Bertuah. Biasanya Wisatawan Malaysia, Singapura menjadikan air sumur tersebut sebagai ole-ole penyembuh penyakit.


Hal-ini tentu sangat disesalkan tokoh masyarakat. Sebut saja Annas Aismana, salah seorang tokoh pemuda. Ia tidak setuju dengan penghilangan wajah asli Mesjid Raya Pekanbaru.


“Program revitalisasi yang dilakukan terhadap Mesjid Raya itu telah menghilangkan salah satu bukti sejarah Kerajaan melayu di-Riau. Malah telah menjadi cagar budaya nasional, bahkan dikenal dunia. Seharusnya keaslian mesjid ini terus dijaga," tegasnya kepada media.


Desain, Rancangan Baru Masjid Raya Pekanbaru
Revitalisasi ini kembali mengingatkan kita pada Masjid Tertua ke 2 di Pekanbaru dan pada desain ulang masjid tua Agung An-Nur Pekanbaru. Juga tak lupa Design Masjid Jami' serta Masjid Raya Kota Teluk Kuantan. Sangat sering terjadi kecolongan-kecolongan penghancuran Bangunan megah bersejarah seperti ini. Untuk Masjid Raya Pekanbaru sebenarnya Lembaga Adat Melayu Riau Cabang Pekanbaru bersama Askar Melayu menentang perombakan dan revitalisasi yang dilakukan.


Ringkasan Sejarah Pergantian Nama Mesjid Raya Pekanbaru


Mesjid Alam 1762 :
Diberi nama Mesjid Alam yang diambil dari nama kecil Raja Alam ketika dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.


Mesjid Nur Alam 1775 :
Sejalan dengan pembesaran Mesjid Alam yang melibatkan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Datuk empat Suku, Sayid Osman, dan masyarakat Pekanbaru. Perpindahan secara keseluruhan Kerajaan Siak dari Senapelan (Pekanbaru) kembali ke Siak antara tahun 1784-1810 oleh Sultan Assyaidissarif Ali Abdul Jalil Syarif karena tekanan Belanda. Mesjid Nur Alam tetap dibangunkan selasar-nya. Di tahun 1858 dilakukan perluasan selasar oleh Sultan Ismail II.


Mesjid Sultan, Mesjid Besar, Mesjid Raya 1889 - 1908 :
Oleh Sultan Hasyim (Assyaidissarif Hasyim Abdul Jalil Syafuddin), Mesjid Nur Alam dipindahkan 40 langkah dari posisi semula ke arah matahari terbit. Penyebutan nama Mesjid Sultan atau Mesjid Besar atau Mesjid Raya karena mesjid itu dipindahkan oleh Sultan, bentuknya lebih besar dari semula dan sehingga lebih ramai.


Mesjid Raya 1935 :
Pembangunan mesjid dari bahan semen dan batu yang letaknya berdekatan dan masih dalam satu areal dengan mesjid lama pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II. Mesjid ini menjadi aset sejarah sebagai bukti sejarah Kerajaan Siak yang berakhir pada tahun 1946 ketika bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Walaupun sedikit ada perbedaan pendapat tentang asal mula penamaan Mesjid Raya Pekanbaru dari tokoh adat seperti yang tercantum di bawah ini :


SELAMA ini pemberitaan di media massa terjadi kekeliruan dalam memberitakan kapan sebenarnya berdirinya Masjid Raya Pekanbaru. Sebagai contoh pada berita Riau Pos, Kamis (7/1) kemarin yang menyebutkan, umur Masjid Raya sudah berabad-abad.


Oleh karenanya itu, saya ingin meluruskan kembali dan pemberitaan tentang Masjid Raya dapat berpegang pada tanggal dibangunnya masjid yang sebenarnya. Dalam buku sejarah Syair Marhum Pekan karangan GP Ade Dharmawi halaman 149 dan 150 menuliskan:


Pada tahun sembilan belas dua puluh lima. Datuk Comel digantilah pula. Oleh Wan Entol penguasa berikutnya. Datuk bergelar Sri Amat Perkasa.

Ketika Wan Entol memerintah Senapelan. Pembangunan Pekanbaru diadakan peningkatan. Tersebar pasar ramai setiap pekan. Dipungutlah dana perawatan dan kebersihan.
Kehidupan beragama diperhatikan pula. Dengan dibangunnya Masjid Raya memperbaharui bangunan masjid lama. Wan Entol sebagai ketua pelaksana (tahun 1929).

Bidang pendidikan turut dibina. Sekolah kerajaan kemudian dibuka. Hanya tiga tahun masa belajarnya. Pendidikan disebut Sekolah Desa.

Pada tahun sembilan belas tiga puluh satu. Karena berhasil mengembangkan Pekanbaru. Wan Entol diangkat pada kedudukan baru. Districthoofd Siak jabatan dipangku.

Terima kasih saudara Ade Dharmawi. Jadi jelaslah Masjid Raya Pekanbaru itu dibangun pada tahun 1929. Mudah-mudahan siapapun yang akan menulis mengenai Masjid Raya Pekanbaru tidak lagi mengulangi informasi yang salah terima kasih.



Wan Ghalib,
Jalan Banda Aceh 12A Harapan Raya Pekanbaru.
RiauPos Online 8 Januari 2010
(http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=253&kat=5)



Jika melihat tulisan Wan Ghalib di atas, maka tulisan dari GP Ade Dharmawi mirip seperti pantun ataupun syair :

Pada tahun sembilan belas dua puluh lima.
Datuk Comel digantilah pula.
Oleh Wan Entol penguasa berikutnya.
Datuk bergelar Sri Amat Perkasa.

Ketika Wan Entol memerintah Senapelan.
Pembangunan Pekanbaru diadakan peningkatan.
Tersebar pasar ramai setiap pekan.
Dipungutlah dana perawatan dan kebersihan.

Kehidupan beragama diperhatikan pula.
Dengan dibangunnya Masjid Raya
Memperbaharui bangunan masjid lama.
Wan Entol sebagai ketua pelaksana (tahun 1929).

Bidang pendidikan turut dibina.
Sekolah kerajaan kemudian dibuka.
Hanya tiga tahun masa belajarnya.
Pendidikan disebut Sekolah Desa.

Pada tahun sembilan belas tiga puluh satu.
Karena berhasil mengembangkan Pekanbaru.
Wan Entol diangkat pada kedudukan baru.
Districthoofd Siak jabatan dipangku.



Situs-situs Sejarah di Kawasan Mesjid Raya Pekanbaru - Riau



* Mesjid Raya
Sebagai mesjid tertua di Kota Pekanbaru yang memiliki kolom Tiang Seri, Tiang Tua dan Mimbar (yang diberikan oleh Sultan Hasyim).
* Sumur Tua
Terletak di sebelah kiri Mesjid Raya yang mempunyai nilai-nilai pembersihan diri.
* Makam
Terletak di sebelah kanan Mesjid Raya merupakan makam Sultan Marhum Bukit dn Marhum Pekan sebagai pendiri Kota Pekanbaru. Marhum Bukit adalah Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan Siak ke-4) memerintah tahun 1766-1780, di sekitar tahun 1775 memindahkan ibukota kerajaan Siak dari Mempura Siak ke Senapelan. Beliau Mangkat tahun 1780.
* Gerbang Lama
Terletak di depan mesjid seperti terlihat pada gambar di atas.



Foto foto Desain Masjid Raya Pekanbaru:



Masjid Raya Pekanbaru Sebelum di Revitalisasi
Masjid Raya Pekanbaru Sebelum di Revitalisasi


Rancangan Palabuhan Mesjid Raya Pekanbaru
Rancangan Palabuhan Mesjid Raya Pekanbaru


Rancangan Minaret Masjid Raya Pekanbaru
Rancangan Minaret Masjid Raya Pekanbaru


Rancangan Museum Masjid Raya Pekanbaru
Rancangan Museum Masjid Raya Pekanbaru


Rancangan Area Masjid Raya Pekanbaru
Rancangan Area Masjid Raya Pekanbaru


Rancangan Pelabuhan Masjid Raya Pekanbaru
Rancangan Pelabuhan Masjid Raya Pekanbaru


Masterplan Rancangan Masjid Raya Pekanbaru
Masterplan Rancangan Masjid Raya Pekanbaru


Rancangan Masjid Raya Pekanbaru setelah di Revitalisasi
Rancangan Masjid Raya Pekanbaru setelah di Revitalisasi


Itulah gambaran ketidak peduliannya pemerintah terhadap Benda Cagar Budaya yang harus dan selayaknya dilestarikan bukan merubah bentuk aslinya sehingga semua hanya tinggal benar-benar sejarah tanpa adanya barang bukti. Oh.. Masjid Raya ku sayang.. Masjid Raya ku Malang.



Sumber-Tulisan:
Riau Pos
Riauinfo
Tribun Pekanbaru
PekanbaruRiau.Com
Sumber-Foto Foto Rancangan, Desain Baru:
Attayaya.Net

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan


Baca Juga Artikel Pekanbaru Riau Dibawah ini:

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari www.sungaikuantan.com di inbox anda:

Comments :

15 komentar to “Sejarah Masjid Raya, Cultural Heritage”

nice info.. thx ya..

GADO GADO said...
on 

Ini pasti dari RIAUINFO beritanya.

Ini dapat sumber dari siapa ??? Gak ada pihak berwenang yang ngomong di situ ..... Cuman seorang Tokoh Pemuda ...

Soalnya berita resminya belum keluar bang.

Emangnya pagar konstruksi udah dibuka jadi bisa dilihat dalamnya seperti apa ??? Tahu dari mana kalau Perigi tua di dalamnya juga dihancurkan ????

Sebenarnya aku kurang suka kalau ada Perigi/sumber air di dekat masjid/kuburan yang dikunjungi buat tempat-tempat penyembuhan penyakit ... soalnya rawan tindakan Syirik ... Kalau sekedar tempat sejarah sih gak papa

Kalau di Makam Sultan Siak di dekat Istana Asserayah Al-Hasyimiyah di Siak Sri Indrapura itu ditulis di depannya, tidak boleh berdoa atau meminta yang tidak-tidak di tepi makam .... Makanya, gak ada tuh kepercayaan minta doa-doa kepada sultan... karena masyarakat Melayu seharusnya tidak mengamalkan hal-hal seperti itu.

Bang, coba deh lihat postingannya om attayaya bahwa beberapa bagian dirombak dengan TIDAK MENGHILANGKAN BENTUK DASARYA (bisa dilihat di gambar). Karena Masjid Raya NUr Alam ini sudah pernah beberpa kali mengalami perluasan pasca Kerajaan Siak berdiri. JAdi yang dihancurkan itu bangunan yang baru diperluas dulu bukan banguan asli Raja SIak.

Kalau menurutku, justru ini adalah perhatian dari Pemerintah Kota Pekanbaru yang ingin "menyelamatkan" dan mengembalikan Kawasan Masjid Raya Nur Alam Kerajaan Siak yang kini seolah "terkepung". Dengan adanya revitalisasi ini diharapkan Sejarah Pekanbaru dapat kembali bangkit dan jelas.

Kris said...
on 

detail sekali, bro...
nice share..... mantaap ^_^b

ferdivolutions said...
on 

hmmm ada dua tinjauan ayo lihat lokasinya dan sejarah perkembangannya, dan cari info yang nyata! Yang namanya Masjid jangan diratakan, ayo dirawat kalau rusak ya diperbaiki!

nuansa pena said...
on 

waw masjidnya indah banget

ulin nuha said...
on 

Tadi barusan saya lewat situ dan cagar bangunan bersejarahnya tatap dipagar dan tidak dihancurkan.

Kris said...
on 

Lengkap nih sejarahnya. jadi tahu masjid kebanggan kita.

Parenting said...
on 

Perombakan/pembaharuan saat ini, tetap mengikut kepada desain lama. Desain mesjid mengikuti arsitektur Turki dengan menyesuaikan desain mesjid lama. Pembaharuan dilakukan terutama pada bagian kubah yang berarti kubah lama dihancurkan (mungkin ini yang diceritakan Bang Ais dalam blognya) untuk diganti dengan kubah baru. Perluasan areal shalat difokuskan pada pekarangan mesjid dan area parkir basement yang dapat dialih-fungsikan menjadi area shalat. Direncanakan Mesjid Raya dan pekarangannya dapat menampung sekitar 3.500 jamaah. Jadi yang dihancurkan adalah kubah dan dinding perombakan terakhir, (bukan dinding asli bagian dalam) untuk diganti baru.


Dalam desain saat ini, tidak menghilangkan "Tiang Seri" dan "Tiang Tua" serta dinding mesjid yang asli (bukan dinding luar yang juga merupakan hasil perombakan sebelumnya).

Bangunan baru yang akan dibuat adalah menara/minaret bagian utara mendekat pojok barat setinggi 6666 cm atau 66,66 meter sesuai jumlah ayat dalam Al-Qur'an. Menara akan memiliki balkon untuk pengunjung pada ketinggian 35 meter.

Saya said...
on 

woow... bagus mesjidnya...

gayuh said...
on 

artikel yang anda sajikan sangat bagus bermanfaat . saya sangat senang membaca ditempat anda, sungguh memberikan saya inspirasi. kalau ada waktu kunjungi blog saya juga http://senyawa-kimia.blogspot.com

tika said...
on 

Boleh ikut neh....Kebetulan saya terlibat dalam perencangan Mesjid ini,memang banyak orang awam yang tahu sedikit... trus komennya seperti ahli sejarah atau ahli perancangan arsitektur saja...coba dilihat lagi kronologis kenapa adanya proyek rehabilitasi ini...trus dilihat bagaimana pentahapan dan proses rehabilitasi mesjid ini...
seharusnya kita sebagai orang melayu riau bersyukur ada yang memperhatikan Mesjid bersejarah ini...
Sedikit saya berikan info kalau mesjid raya yang anda lihat sebelum rehabilitasi bukan mesjid asli...hanya beberapa bagian saja yang asli...karena telah mengalami perombakan beberap kali...
Trus seharusnya anda melihat proyek ini merupakan bagian dari rencana besar merevitalisasi "kawasan" lama kota pekanbaru yang mulai lambat laun menuju kearah terciptanya kawasan kumuh....bangunan konstruksi papan yang tidak teratur,kotor dan digunakan sebagai gudang serta tempat menjual barang bekas....
apa ini wajah yang mau kita tampilkan???? tentu tidak...jadi mesjid hanya bagian dari rencana besar revitalisasi kawasan ini...
...satu lagi,dalam perancangannya kita pernah berdiskusi...memilih mempertahankan bangunan asli(jelas2 bukan asli lagi) dengan daya tampung jemaah sama seperti sekarang yang selalu penuh sehingga kurang nyaman, atau di rancang ulang dengan tetap mempertahankan bagian yg benar2 asli..tetapi mampu memberikan kenyamanan dan daya tampung jemaah yang lebih banyak....????
..Salut buat Badan Revitalisasi Mesjid Raya..Bravo

irhamtemas said...
on 

Ass.
Berita yang bung buat harus punya sumber yang jelas.
Karena ini dapat menyesatkan umat. Terutama memecahkan masyarakat melayu yang ada di kota Pekanbaru. Namun jika itu memang keinginan anda, saya hanya bilang anda cukup sukses.
Dari sumber yang saya peroleh -- syahih -- yaitu bersumber dari keluarga yang merupakan ketua panitia pembangunan mesjid raya pertama kalinya yang dimulai pada sekitar tahun 1925 an. Memang sebelumnya sudah ada Mesjid Raya, namun lokasinya tidak berada pada Mesjid Raya yang sekarang. Beliau masih menyimpan rancangan asli kerangka bangun mesjid raya. Namun sesuai dengan perkembangan zaman terjadi perubahan. dan oleh segelintir orang yang ingin mengembalikannya menjadi rancang bangun mesjid raya pertamakalinya malah banyak ditentang. Karena mereka kurang mau menggali terlebih dahulu informasi yang benar.
Sama seperti anda, hanya asal berkoar dan bernyanyi saja.
Selain itu mengenai Masjid Raya Pekanbaru sebagai situs atau cagar budaya oleh Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomor. KM.13/13.007/MKP/2004 apa anda sudah membacanya?

Anonymous said...
on 

sebelum mesjid dirombak saya ada bermimpi dengan org yang mengaku sebagai RAJA KECIK, kemudian dia mengatakan SAYA YANG BERKUASA DI PEKANBARU DAN SAYA YANG MENGISLAMKAN ORANG PEKANBARU. didalam mimpi saya berziarah ke makam raja kecik tersebut disebelah mesjid yang dijaga oleh dua orang, sayu berkulit kuning dan satunya berkulit agak gelap. berkulit gelap baik ke saya sedang yang satu lagi krg senang ke saya. setelah saya terbangun saya bingung akan mimpi saya, tetapi saya pergi shalat subuh kemesjid yang sekarag direnovasi ini yang waktu saya krg perhatian sama mesjid ini. padahal saya tinggal di SMU setia dharma selama 4bln dan jl lili 1 th, sekarang tinggal di Panam.Setelah saya shalat subuh saya bertanya ke bpk perihal raja kecik dia mengatakan raja kecik di siak. kemudian saya bertemu dgn bpk yang lain munkin sebagai pengurus mesjid dan dia menaruh rasa curiga ke saya dan saya tidak peduli, Alhamdulillah satpam mesjid mau mengantar saya ke makam disamping mesjid dan membukakan pintu makam. yang saya heran kok sama mimpi saya bahwa org kulit putih curiga ke saya dan satpam kulit hitam baik ke saya persis seperti dalam mimpi???????????

zakirman said...
on 

Koq ada WC ditanah makam Raja???

Anonymous said...
on 

Assalamu'alaikum, jujur saya merasakan kesedihan juga seandainya memang Masjid Raya ini memang merupakan sebuah Cagar Budaya, lebih-lebih lagi mengarah kepada sejarahnya, tentang penanganan mesjid ini oleh Sultan-sultan kerajaan dan oleh pendiri Kota Pekanbaru itu sendiri. Jika memang ini merupakan salah satu Cagar Budaya yang telah disahkan, maka ini termasuk sebuah kekhilafan kita dimana dapat kita kutip dari KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 062/U/1995 TENTANG PEMILIKAN, PENGUASAAN, PENGALIHAN, DAN PENGHAPUSAN BENDA CAGAR BUDAYA
DAN/ATAU SITUS sebuah Cagar Budaya yaitu:

PASAL 5
(1) Benda cagar budaya dan/atau situs yang dimiliki
Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ialah :
a. benda cagar budaya dan/atau situs yang merupakan
bukti, rekaman, serta sumber sejarah, ilmu
pengetahuan, dan kebudayaan yang mempunyai
nilai sangat penting bagi upaya menumbuhkan
jati diri, kepribadian bangsa, dan kebanggaan
nasional;
b. benda cagar budaya yang sifatnya khas dan unik
dalam hal gaya, ukuran, cara pembuatan, bahan,
dan fungsinya;
c. benda cagar budaya yang jumlahnya sangat
terbatas dilihat dari segi bentuk, zaman, dan persebarannya
untuk dimanfaatkan sebagai sumber
sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Dan jika Mesjid Raya ini merupakan Cagar Budaya, seharusnya kita bersikap melindungi dan memeliharanya sesuai dengan KEPUTUSAN
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 063/U/1995 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMELIHARAAN BENDA CAGAR BUDAYA:
BAB III PERLINDUNGAN, PEMELIHARAAN, DAN PENEGURAN
Bagian Pertama
Perlindungan
Pasal 4
(1) Setiap orang yang memiliki dan/atau menguasai benda
cagar budaya wajib melakukan perlindungan dengan
cara penyelamatan dan pengamanan baik terhadap
fisik maupun data benda cagar budaya yang dimiliki
dan/atau dikuasai.
(2) Penyelamatan dan pengamanan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dilakukan untuk mencegah:
a. kerusakan benda cagar budaya karena faktor alam
dan/atau manusia yang berakibat berubah-nya
keaslian dan nilai sejarah benda cagar budaya.
b. beralihnya pemilikan dan/atau penguasaan benda
cagar budaya yang bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

pada Pasal 7 dari Bab ini saya ada mengambil sedikit berkaitan dengan pemindahan elemen benda cagar budaya, seperti yang dibicarakan diatas tentang sumur.
Pasal 7 no 1 poin b yaitu:
b. pemindahan benda cagar budaya tersebut tidak
mengakibatkan nilai sejarah benda cagar budaya
berubah atau hilang;
c. selama proses pelaksanaan pemindahan, dilakukan
pendokumentasian secara lengkap baik sebelum,
selama, dan setelah pemindahan dilakukan;
d. memberi tanda berupa patok atau tanda lainnya
yang permanen di situs asal benda cagar budaya;
e. pelaksanaan pemindahan di bawah pengawasan
Direktorat atau instansi yang ditunjuk;

Baiklah, alhamdulillah, semoga dengan ini kita bisa bisa menjadi lebih baik lagi daripada sebelumnya, berikut adalah beberapa website yang saya lihat dan semoga bisa melengkapi pengetahuan teman-teman :
http://bappeda.pekanbaru.go.id/artikel/2/mesjid-raya-pekanbaru--sejarah-berdirinya-situs-sejarah-dan-pergantian-nama/page/1/
http://berita.pendidikanriau.com/2010/10/masjid-raya-pekanbaru-sebagai-cagar.html
Assalamu'alaikum.

Anonymous said...
on 

Bagaimana Pendapat Anda?

KOMENTAR Sobat Adalah Nyawa Blog All About Pekanbaru Riau ini, Tentunya Blog Sobat Juga, Jadi Kita Sesama Blogger Mari Saling Menghidupi... Hehehe....

Bagi yang BELUM PUNYA BLOG bisa pakai 'Comment As: name/URL. masukkan nama dan FS, FaceBook, Multiplay atau lainnya (contoh: http://facebook.com/nanlimo)

 

SungaiKuantan.Com Site Info


TopOfBlogs