-

November 25, 2009

Laskar Pelangi VS Bulang Cahaya

Ketika Laskar Pelangi Bulang CahayaRida Kupas Sejarah Riau Lingga, Andrea Kagumi Muslimah
Dua penulis novel, yakni Rida K Liamsi dan Andrea Hirata, akhir Maret lalu membedah isi novel mereka. Rida dengan Novel Bulang Cahayanya, membuat sejarah Riau Lingga lebih mudah dipahami, sementara Andrea dengan Laskar Pelanginya menunjukkan bagaimana kesungguhan seorang guru yang tetap mengajar tanpa digaji.


Pada acara bedah novel yang dilaksanakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kepulauan Riau terungkap bahwa kehadiran Novel Bulang Cahaya telah membuat pemahaman sejarah Riau Lingga lebih mudah dicerna. Hal itu salah satunya terungkap dari pernyataan Darmawani Tambunan, SMA Muhammadiyah Tanjungpinang, yang menjadi salah satu peserta.

?Novel ini tak hanya berisikan romantika sebuah kehidupan dan percintaan, tetapi juga membuka pintu sejarah kebesaran Kerajaan Riau Lingga. Karena, latar belakang kehidupan dan percintaan antara Raja Ja?afar dengan Tengku Buntat disetting dalam masa kejayaan kerajaan tersebut,? ungkap Darmawani, yang berada di tengah-tengah ratusan peserta lainnya yang terdiri dari ratusan guru, pelajar dan masyarakat umum lainnya.

Hal itu juga didukung oleh ungkapan Aswandi Syahri, sejahrawan Kepulauan Riau. Menurutnya, novel memang bukan buku sejarah. Tapi dengan membaca Bulang Cahaya yang berlatarbelakang sejarah lebih mudah memahami sejarah dari pada membaca buku sejarah, yang terikat dengan batasan tahun.


??Dengan membaca novel Bulang Cahaya akan mengerti dengan sejarah Riau Lingga. Di sinilah nilai penting dari novel ini yang mampu membuat pembaca termotivasi mempelajari sejarah,?? ujar Aswandi.

Salah seorang peserta yaitu Laila, yang berprofesi sebagai guru mengakui usai membaca novel ini ?yang harus berebutan dengan suaminya untuk membaca- dia jadi termotivasi untuk mempelajari sejarah Riau Lingga. Dia ingin mengajak semua orang di Kepri untuk membaca novel ini, apalagi karena kedekatan isi ceritanya dengan daerah ini.

Pelajar SMAN 1 Tanjungpinang, M Fadli mengakui novel ini unik karena kisahnya berlatarbelakang sejarah budaya Melayu di sini. Hal itu penting untuk membentengi pengaruh budaya asing yang sekarang mulai mengikis budaya Melayu di daerah ini. Hal itu ditanggapi oleh Rida K Liamsi yang mengungkapkan besarnya kejayaan Kerajaan Riau Lingga dan perlu diketahui oleh generasi muda melalui novel.


Sastrawan Batam, Samson Rambah Pasir mengharapkan novel Bulang Cahaya yang setting kejadiannya pada masa kejayaan Kerajaan Riau Lingga tersebut, bisa membangunkan generasi muda di Provinsi Kepri khususnya dan Indonesia umumnya dari amnesia sejarah. Sebab, meskipun bukan buku sejarah namun latar belakang novel ini adalah sejarah. Karenanya, dia berharap pemda di Provinsi Kepri bisa mensponsori agar buku ini bisa masuk ke semua sekolah.

Pengarang novel Bulang Cahaya, Rida K Liamsi menanggapi perlunya memperbanyak referensi buku sejarah Melayu menyatakan sependapat. Dia bahkan meminta agar Sejarah Melayu menjadi muatan lokal pada kurikulum pendidikan di Provinsi Kepri dan harus ada bukunya. Namun, untuk memastikan kebijakan memasukkan pelajaran Sejarah Melayu pada muatan kurikulum lokal diperlukan kemauan politik dan kemauan baik untuk itu.

Usai bedah novel Bulang Cahaya, giliran Laskar Pelangi dibedah di tempat yang sama. Penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata menuturkan, awalnya ia hanya salut dengan kegigihan gurunya ibu Muslimah yang penuh kesungguhan mengajar tanpa digaji. Kegigihan sang guru inilah yang kemudian menggerakan hati Andrea untuk menulis kisah ibu Muslimah itu. "Tulisan saya itu sebenarnya hadiah buat ibu Muslimah," katanya.

Andrea juga menceritakan, kalau sesungguhnya ia bukanlah seorang novelis atau penulis buku yang hebat. Bahkan, sebelum menerbitkan buku, ia tidak terlalu suka membaca novel. Ia hanya suka baca buku yang terkait ilmu pengetahuan dan teknologi.

Barulah setelah Laskar pelangi terbit, ia mulai suka membaca novel dan buku-buku sastra lainnya. "Tapi saya dilahirkan dari keluarga yang suka baca buku, ini membuat saya termotivasi untuk selalu membaca buku," katanya.

Andrea lebih banyak memotivasi ratusan pengunjung yang hadir untuk berbuat yang terbaik dalam hidup ini. Ia njuga mengaku kalau ia bukanlah penulis hebat, sehingga ia tak bisa mengajarkan bagaimana menjadi penulis hebat. "Saya hanya nulis saja, selanjutnya yang edit ada editor saya. Jadi nulis saja dulu," katanya.

Ia juga mengungkapkan adanya beberapa isi buku Laskar Pelangi itu yang dikaburkan. Tujuannya, agar pihak-pihak terkait di Blitong tak terusik.

source from http://erdeka.com/

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan


Baca Juga Artikel Pekanbaru Riau Dibawah ini:

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari www.sungaikuantan.com di inbox anda:

Comments :

3 komentar to “Laskar Pelangi VS Bulang Cahaya”

Laskar pelangi udah baca, bulang cahaya belum baca nich...bagus ya? aku selalu kagum dengan para penulis sastra, karena mereka bisa mengajar dunia dengan pena :) sukses ya mo!

Zahra Lathifa said...
on 

dua-duanya belum punya laskar pelangi cuma lihat filmnya beda kali ya dengan Novelnya

Munir Ardi said...
on 

tetralogi laskar pelangi udah baca semua... ditunggu karya andrea berikutnya, mudah2an bulang cahaya mengikutinya, riau gudangnya para pujangga dan sastrawan...sukses tuk dinda limo!

SDN 012 Singingi said...
on 

Bagaimana Pendapat Anda?

KOMENTAR Sobat Adalah Nyawa Blog All About Pekanbaru Riau ini, Tentunya Blog Sobat Juga, Jadi Kita Sesama Blogger Mari Saling Menghidupi... Hehehe....

Bagi yang BELUM PUNYA BLOG bisa pakai 'Comment As: name/URL. masukkan nama dan FS, FaceBook, Multiplay atau lainnya (contoh: http://facebook.com/nanlimo)

 

SungaiKuantan.Com Site Info


TopOfBlogs