-

November 01, 2008

Kerajaan Koto Alang

Kerajaan=Koto+AlangSitus Kerajaan Koto Alang ini telah sangat lama terlupakan. Hanya beberapa Tokoh adat yang tetap menjaganya. Walau dijaga, tetap saja tak lepas dari tangan jahil yang suka memperjual belikan Benda Cagar Budaya (BCB) yang terdapat di lokasi Situs Kerajaan Koto Alang ini. Pemerintah setempat nyaris tidak mengetahui keberadaannya (atau pura-pura tidak tahu). Hati terasa perih ketika Situs Kerajaan Koto Alang terabaikan begitu saja. Maka saya mencoba menelusurinya. Sobat netter mau tau cerita petualangan saya menelusuri Situs Kerajaan Koto Alang ini? Silakan lanjutkan baca cerita selengkapnya.

Penelusuran di Dusun Botuang

Saya menelusurinya bersama seorang teman dari Koran Kampus “Bahana Mahasiswa” Universitas Riau. Dari Pekanbaru menempuh perjalanan darat menuju Kota Taluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuansing), pada minggu ketiga dan hari ketiga di bulan Oktober 2008, ujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Tujuannya adalah Kecamatan Kuantan Mudik, disitulah terdapat Dusun Botuang di Desa Sangau.

Untuk mencapai Dusun Botuang ini dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari pusat Kota Taluk Kuantan, Situs Kerajaan Koto Alang itu berada disini, dinamakan Padang Candi karena diduga kuat disitu terdapat sebuah candi yang telah sangat lama tebenam. Untuk sampai kelokasi Padang Candi ini kami melewati sebuah sungai kecil bernama Sungai Salo dan dilintasi dengan jembatan gantung yang terbuat dari kayu, bagi orang yang tidak terbiasa melewatinya akan merasa gamang karena sewaktu dilewati ia bergoyang-goyang.

Kerajaan Koto AlangDusun Botuang ini banyak menyimpan Benda Cagar Budaya (BCB) yang sering ditemukan penduduk setempat secara tak sengaja, sewaktu menggali tanah untuk berkebun dan atau hanya sekedar menata halaman rumah, seperti perhiasan yang terbuat dari emas: cincin, kalung, gelang, juga jarum penjahit dan mata kail. Menurut cerita penduduk setempat, Herlita menceritakan awal temuan ini, ketika salah seorang penduduk bermimpi didatangi orang tak dikenal untuk menggali sebuah guci yang berisikan perhiasan, setelah digali ditempat yang ditunjukkan orang tak dikenal dalam mimpim itu. Namun sayang guci itu kembali membenamkan diri, karena “Sewaktu bermimpi guci itu minta didarahi dengan darah Kambing Hitam, karena sulit didapat diganti dengan darah Anjing Hitam, makanya dia kembali tenggelam kedalam tanah,” terang Herlita.

Hal ini dibenarkan oleh Rabu Jailani Kepala Dusun Botuang, “semenjak itu banyak masyarakat yang mengambil tanah disekitar bekas penggalian guci itu untuk didulang di Sungai Salo, dan menemukan emas, malahan ada yang telah berbentuk cincin, gelang, mata kail dan jarum penjahit, kejadiannya sekitar tahun tujuh puluhan,” kata Rabu Jailani. Karena suatu hal penggalian dibekas ditemukannya guci itu dihentikan atas kesepakatan tokoh-tokoh adat Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

Selain perhiasan yang terbuat dari emas yang paling sering ditemukan penduduk setempat adalah batu bata kuno, berukuran sekitar satu jengkal kali dua jengkal persegi—jengkal orang dewasa. “Kalau kita gali dengan kedalaman sekitar satu meter saja, kita bisa menemukan batu bata kuno ini masih tersusun rapi didalam tanah,” kata Rabu Jailani. Dari ditemukannya batu bata kuno tersebut banyak dilakukan penelitian-penelitian dan penggalian-penggalian. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya.

”Dulu masyarakat setempat tidak mengenal nilai dari arca tersebut sebagai benda cagar budaya yang tak ternilai harganya sebagai situs suatu peradaban kuno, akhirnya masyarakat menjualnya,” ungkap Yasir Kepala Desa Sangau. ”Sangat disayangkan,” sesalnya. Pada penggalian terakhir yang diketahui pada tahun 2007 dilakukan oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah.

Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya. ”Kita kecolongan waktu itu,” terang Suhernita Kepala Seksi (Kasi) Pengkajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional, Dinas Budaya Kesenian dan Pariwisata (Disbudsianipar) Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuansing), Suhernita menambahkan, adanya kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan saat ini Disbudsianipar Kab. Kuansing fokus pada pembangunan fisik, “Untuk tahun ini kita fokus pada pembangunan fisik untuk objek parawisata Air Terjun Guruh Gemurai yang ada di Desa Kasang, Kecamatan Kuantan Mudik,” terangnya.

Hal ini dibenarkan oleh Drs. Syafrinal, M.Si kepala Disbudsianipar, yang baru menjabat sekitar enam bulan yang lalu, “Banyaknya kelemahan yang kita alami dalam perawatan objek pariwisata dan situs-situs bersejarah sangatlah merugikan kita.” Ungkap Syafrinal sewaktu kami jumpai di ruang kerjanya Komplek Perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) Kab. Kuansing, Kamis (23/10) lalu.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Syafrinal telah berusaha semaksimal mungkin, “Kita telah membentuk tim pengumpul data objek pariwisata dan situs sejarah disetiap kecamatan,” selain itu Syafrinal mengharapkan sumbangsi kita bersama, dan pihak swasta yang mau menanamkan modalnya untuk pengembangan objek pariwisata dan situs bersejarah yang ada di Kab. Kuansing. “Saya bangga dengan yang dilakukan pemuda saat ini yang merawat seni, budaya dan parawisata Kuansing melalui media internet, salah satunya sungaikuantan.com yang saya lihat serius dalam hal ini,” ungkap Syafrinal.

Kerajaan Koto Alang

Kerajaan Koto Alang apakah di Dusun Botuang?


Banyaknya ditemukan Benda Cagar Budaya (BCB) di Dusun Botuang, diduga kuat di sini berdiri kerajaan Hindu dengan nama Kerajaan Koto Alang, walau belum ada penelitian secara ilmiah yang mengungkapkannya. Mahmud Sulaiman (68)—Bergelar Datuk Tomo, seorang tokoh adat Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, adalah keturunan Raja Kerajaan Koto Alang. Padang Candi yang terdapat di Dusun Botuang ada dibawah pengawasannya sebagai tokoh adat.

Kalau ada orang atau peneliti yang ingin tahu cerita detail tentang Padang Candi maka masyarakat Dusun Botuang merekomendasikan Datuk Tomo kepada peneliti tersebut, “Kami disini tidak tahu banyak tentang sejarah Padang Candi, yang mengetahuinya ya yang mengawasi Padang Candi, yaitu Datuk Tomo,” terang Rabu Jailani Kepala Dusun Botuang. Hal ini di benarkan pula oleh Yasir Kepala Desa Sangau, “Kalau sejarah Padang Candi kami serahkan kepada tokoh adat yang berwenang terhadap Padang Candi, dia Datuk Tomo,” kata Yasir, “Semua perangkat desa tidak ada yang mengetahuinya secara detail,” tambah pria tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, sewaktu kami temui di ruang kerjanya Kamis (23/10) lalu.

Sehingga kami penasaran dan langsung menelusurinya, lalu tim kami berkunjung kekediaman Datuk Tomo yang berada di Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, dan ia menceritaka tentang Padang Candi kepada tim BM dari petikan Tambo Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal. Tambo tersebut telah hancur dimakan zaman, sekarang Datuk Tomo kembali berusaha membukukannya dari hasil ingatannya, dan dari hasil penelitian tim Penelusuran Kerajaan Kandis, di Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

Tim ini di koordinatori oleh Pebri Mahmud Al-Hamidi, beranggotakan Drs. H. Syafri Yoes, Triwan Hardi, SH., Agusrisal SR, Hardimansyah, Jhon Herizon Patra, Raja Bastian, SE., Drs. H. Mukhlis MR., MSi., Ikatan Keluarga Kuantan Mudik (IKKM) Pekanbaru, dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Kuantan Mudik (HPMKM) Pekanbaru. Yang diarahkan oleh Penghulu Pucuk Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo dan Syamsinar Dt. Rajo Suaro) beserta seluruh Pemangku Adat dalam Wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal. “Setelah bahan-bahan telah terkumpul semua dan dapat dipertanggung jawabkan akan segera diterbitkan dalam bentuk buku,” ucap Datuk Tomo.

Berdasarkan Tambo tersebut kerajaan Koto Alang adalah pengembangan dari Kerajaan Kandis, “Pada masa jayanya Kerajaan Kandis banyak terjadi perebutan kekuasaan dari orang-orang yang merasa mampu, mereka ingin merebut kekuasaan dan akhirnya memisahkan diri dari Kerajaan Kandis,” kata Datuk Tomo. Maka berdirilah Kerajan Koto Alang pada tahun ke 2 M, Rajanya bergelar Aur Kuning, ia mempunyai Patih (Wakil Raja) dan Temenggung (Penasehat Raja).

“Berdirinya Kerajaan Koto Alang maka terjadilah perebutan kekuasaan antar kerajaan,” Maka pada tahun 6 M Kerajaan Kandis menyerang Kerajaan Koto Alang. Dimenangkan Kerajaan Kandis. Raja Aur Kuning melarikan diri ke Jambi, ”Itulah asal usul nama Sungai Salo yang berarti Raja bukak selo—buka sila, di Dusun Botuang.” Karena tidak mau tunduk dibawah pemerintahan Kerajaan Kandis, Patih dan Temenggung melarikan diri ke arah Barat menuju Gunung Merapi (Sumatra Barat) dan mereka berganti nama, Patih menjadi Datuk Perpatih nan Sebatang dan Temenggung menjadi Datuk Ketemenggungan, ”Kedua tokoh inilah yang menjadi tokoh adat legendaris Minangkabau.” ungkap Datuk Tomo.

Peninggalan Raja Aur Kuning saat ini masi bisa ditemukan yaitu berupa Mustika Gajah sebesar bola pingpong, yang ditemukan Raja Aur Kuning didalam kepala Gajah Tunggal sewaktu Raja Aur Kuning mengalahkan Gajah Tunggal—karena mempunyai satu gading, dibunuh dengan menggunakan Lembing Sogar Jantan. ”Tempat Raja Aur Kuning membunuh Gajah Tunggal itu kini bernama Lopak Gajah Mati yang terdapat disebelah selatan Pasar Lubuk Jambi, Mustika Gajah dan Gading Tunggal, masih saya simpan, kecuali Gading Tunggal yang telah dijual salah seorang keluarga saya, ketika saya tidak berda dikampung pada tahun 1976, sangat disayangkan,” kata Datuk berjanggut ini. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah Mati tersebut dinamakan dengan Batang Simujur, yang berarti mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.

Prof. Suwardi. MS, seorang sejarawan Riau, pernah malakukan penelusuran dengan Datuk Tomo tentang Kerajaan Kandis dan Kerajaan Koto Alang, dan terhenti karena sesuatu hal, ”Kerajaan Kandis memang ada diceritakan sekilas didalam Kitab Negara Kertagama, Kerajaan Kandis itu berada di Rantau Kuantan, penelusuran ini terhenti dengan kendala SDM dan dana,” terang Suwardi. Sampai tulisan ini terbit belum ada pembenahan terhadap situs bersejarah yang terdapat di Dusun Botuang, Desa Sangau, Kec. Kuantan Mudik, Kab. Kuansing, Propinsi Riau tersebut.

Tulisan dan foto telah dikutip oleh Wisatamelayu.com

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan


Baca Juga Artikel Pekanbaru Riau Dibawah ini:

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari www.sungaikuantan.com di inbox anda:

Comments :

19 komentar to “Kerajaan Koto Alang”

Nan, kenapa kerajaan lewat Jabatan Muzium ngak menggezetkan Dusun Botuang menjadi taman tinggalan sejarah...kaji selidik lebih mendalam di lakukan dengan kos ditanggung kerajaan..??
Kalau benar Kerajaan Koto Alang lahir pada tahun 2M...itu amat2 purba, bahkan penggalian harus dibuat dgn lebih sistematik...bukan cara kampungan (utk mencari harta karun)

Sambal Tumis said...
on 

wah, pengen nih ke sana.
o ya, peernya udah ada. kalo udah dibuat, jangan lupa diposting di blogmu ya. tks.

fatamorgana said...
on 

jangan pake lama ngerjainnya ya...Merdeka!

FATAMORGANA said...
on 

jadi pengen ikut dalam perjalanannya nh..

salam nusantara

STUPID PEOPLE said...
on 

ada di blog aku. baca yg judulnya : Peer dari bang Achiles. Tulis 13 fakta tentang dirimu.

fatamorgana said...
on 

Kerajaan Koto Alang merupakan pecahan dari Kerajaan Kandis, ini baru Koto Alang. Kalau seandainya peninggalan Kandis sudah terekspos dan terungkap dunia bakal tau bahwa negeri yang pertama kali di huni di Bumi Nusantara ini adalah di Lubuk Jambi Propinsi Riau. Salut untuk tim Sungaikuantan.com. Lanjutkan kreasimu....buktikan pada semua orang....bahwa negeri kita adalah negeri yang punya identitas. Nanti setelah Kerajaan Kandis, Kancil Putih, Koto Alang, dan Kerajaan Pinang Merah...bisa jadi buku-buku sejarah (Minangkabau dan Jambi) bakal ketahuan bohongya....semoga pengungkapan ini berjalan lancar.... Amin..

Pebri Mahmud Al-Hamidi said...
on 

mampir aja nih. gak ada shoutbox ya.

FATAMORGANA said...
on 

L.S.;

I knew from dokumentasi Belannda about a kerajaan Loeboek Djambi,which was lying in Kuantan area.It was there with the kerajaan2 IV Koto di Hilir,III Koto di Lubukramo,V Koto di Tengah,IV Koto di Mudik(Lubukamabacang), and Ulu Tesso.Lubuk Djambi was also called also V Koto di Mudik and the temporary-Raja in 1942 was Paham gelar Datuk Habib Tua.Is that the same Lubuk Djambi what you are talking about?
I have more information and pictures of this kerajaan.
Please send your reaction directly to my e-mail at pusaka.tick@tiscali.nl .
Thank you for your help.

Hormat saya:
D.P. Tick glr Raja Muda Kuno
secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"
Vlaardingen/Belanda
http://kerajaan-indonesia.blogspot.com

Kupang said...
on 

alangkah sedih hati ini.. ketika benda cagar budaya,, nan tiada kepalang.. tandingannya bila ditukar dgn uang...
namun faktanya saat ni.. dibiarkan bgitu aja.. dan mnjadi sasaran empuk. .para pemburu brang antik...
hikhik.. sedih...

dhiyah said...
on 

Bro, kok gak ada ulasan tentang sejarah Rantau Kuantan Nan Kurang Oso Duo Puluah...? Terutama yang berkaitan dengan Kerajaan Kuantan yang berpusat di Sin tuo (Sebrata)..? saya ada bahannya, yang ditulis oleh Dt. Bisai pada tahun (klu gak salah) 1991.

DPD IMM Riau said...
on 

memang la yah. lubuk jambi kota kerajaan di Kuansing..
salut bwt sungai kuantan utk info2nya..

Suara Fajli said...
on 

thanks sob infonya.. betu-betul saya betah disini, infonya baru tahu semua, apalagi mengenai kota riau dan sekitarnya, tambah pengetahuan sob.. thanks

apih yayan said...
on 

tuh pasti HP dari zaman peninggalan kuno, wakakaka

cinema3satu said...
on 

seharusnya peninggalan purba dijaga dengan baik. dan sudah jadi tanggungjawab pihak pemerintah mengazet tempat tersebut. ini amat penting agar generasi akan datang tidak kehilangan fakta sejarah negeri mereka.

Seri said...
on 

ini ekspedisi sendiri ya..?

indoneter said...
on 

wah ada HP nya tu sob....hahahaha...keren juga tu situs peninggalan jaman dahulu......ternyata riau dari dulu udah maju ya.....sori sob...bercanda..

HAPIA Mesir said...
on 

wah...cari lagi tu sob...sapa tau ada juga harta kirunnya.....lumayan tu buat tambah2 pameran....hihihihi...pa lagi tu ada HP dari jaman kerajaan riau lagi.....

rae_zen said...
on 

salam kenal dari belitung.pertualangan yang keren gan.jangan lupa kunjung balik ya

belitung said...
on 

jikalauuuu beberapa komentarrr yg menyatakan bahwa berdasarkan cerita/tambo yg disampaikan oleh datuak tomo ngaurrr, mengapa tidak menayakan mengenai benda2 yg disampaikan oleh datuak tomo yg katanya masih tersimpan sampai saat ini, pernahkah terlintas dalam pikiran saudara2 untuk melihat benda tersebut,untuk diteliti, berapa usianya,terbuat dari apa? dan apakah ada tambo yg disampaikan oleh datuak tomo dalm bentuk naskah yg sudah lama. saya mengacungkan jempol atas semua kritik dan saran rekan2dan saudara2 semua. disuatu sisi kita melihat suatu peristiwa jgn hanya secara subjectiv tetapi secara objectif maka kta dapat membandingkannya, bisa saja inis semua terjadi dengan apa yg disampaikan oleh tambo dan berdasarkan benda2 peninggalannyaa. kita tidak akan pernah tahu suatu sejarahhh apabila kita tidak terlibat didalamnya...........hanya allah yg tahu. benar dan tidak benarnya semua yg diceritakan dalam tambo memang harus dibutuhkan penelitian lebih lanjut dan dari berbagai bidang keilmuan untuk mengungkap semua ituuu..........peristiwa sejarah tidak bisa ditebak begitu saja tanpa ada pembuktianya baik berupa benda maupun cerita dari generasi ke generasi.

erron putra said...
on 

Bagaimana Pendapat Anda?

KOMENTAR Sobat Adalah Nyawa Blog All About Pekanbaru Riau ini, Tentunya Blog Sobat Juga, Jadi Kita Sesama Blogger Mari Saling Menghidupi... Hehehe....

Bagi yang BELUM PUNYA BLOG bisa pakai 'Comment As: name/URL. masukkan nama dan FS, FaceBook, Multiplay atau lainnya (contoh: http://facebook.com/nanlimo)

 

SungaiKuantan.Com Site Info


TopOfBlogs